humj

belum genap sepekan saya mencoba mencurahkan kegerahan yang amat sangat atas putusan penghentian kasus besar itu. postingan dibawah adalah hasil apatisme memuncak atas kekecewaan yang lumrah terjadi. wajar saja, sebagai seorang rakyat, ekspektasi tentang ‘keindahan’ bernegara adalah sebuah harapan yang terus melintas, walau tak jarang berbuah kekecewaan dan kemarahan akibat berbagai keputusan tak populis elit negeri ini.

sang jaksa teladan yang diharapkan mampu menjadi pilar penegakan hukum harus mengakhiri kisah cemerlangnya dengan sebuah ‘parodi’ mengenaskan. ia, tak kuasa melawan sisi hitamnya sebagai seorang manusia. nuraninya mati melihat onggokan kertas-kertas pembuta itu. hatinya ‘luluh’, untuk kemudian memutuskan memilih jalan singkat dan menafikan, membuang jauh-jauh hati kecilnya, semuanya mati hanya karena keinginan semu dan sesaat itu.

maaf, ketika apatisme kami memuncak, stigma itu sulit terhapus dari memori otak kecil kami, kami tahu membangun kepercayaan itu susah, public trust menjadi semakin sulit diwujudkan jika setiap hari kami disuguhi cerita-cerita dongeng yang memuakkan dan membuat kata ‘percaya’ menjadi sangat langka.

terimakasih tuhan, mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik untuk asa ratusan juta hati di negeri ini..

dari kami, yang tak seberapa, pemimpi di ujung negeri ini…

kami mencintai merah-putih, mengapa kalian tak mencoba untuk sekedar mengingat apa warna bendera kita..???

** memilukan, disaat nominal miliaran ‘terbakar’ keangkuhan, di sudut sana satu keluarga meregang nyawa karena kelaparan…hmmmm

-superunknown-