di awal tahun 2000-an, sheila on 7 booming lewat lagu-lagu easy-listeningnya. kala itu saya masih remaja, ABG persisnya. lagu-lagu hits mereka dinikmati seluruh kalangan, tak mengenal usia, strata ataupun sekat sosial lainnya. hampir di setiap tempat penjualan VCD bajakan, muka personilnya terpampang paling depan menghiasi meja etalase sederhana itu. senandung ’sephia’ hampir seperti lagu kebangsaan saat itu.

ketika zinedine zidane lahir menjadi seorang pahlawan dengan memberi prancis gelar juara dunia, namanya mendadak familiar di telinga. ibu-ibu yang cenderung lebih menyukai telenovela kala itu, latah menghapal nama pria imigran setengah plontos ini. kaus replika dan sablon-sablonan dengan kata ‘zidane’ di punggung bisa dilihat dimana-mana. euoforia melahirkan antusiasme yang kadang tak rasional.

dulu, ibu saya pernah bercerita. “dulu, waktu kau lahir, banyak ayah-ayah ngasi nama anaknya Maradona, mamak juga heran kenapa bisa kayak gitu, memang pada tahun itu bola lagi gila-gilanya. tapi, aku gak mau kalo nama anakku Maradona”. dan itulah sebabnya sekarang orang tidak menyebutku Maradona. Hehehehehe..Begitulah ibu bercerita tentang euforia kemenangan Argentina di Mexico 1986.

setiap peristiwa selalu dimaknai berbeda oleh tiap individu. dan cara tiap orang mengingat itu juga berbeda. lewat 3 peristiwa diatas di tiap zaman yang berbeda, ada banyak nama baru dengan sebutan ’sheila‘, ‘zidane’, dan atau ‘maradona’. nama, menjadi salah satu cara untuk mengapresiasi tiap peristiwa penting dalam bagian kehidupan seseorang. pasti selalu tersirat asa sederhana dibalik maksud penamaan tersebut. dan itu sah-sah saja.

dan mari kita mulai ‘menyelidiki’ , ada berapa banyak anak-anak yang lahir dengan nama ‘Fachri’ dalam kurun waktu 1 tahun mendatang :)

-superunknown-