pemadaman listrik mungkin jarang terjadi disini. sehingga dampaknya tidak terlalu mengganggu aktivitas kita, wajarlah, ibukota pasti diberi daya listrik berlebih agar tidak gelap gulita. belakangan ini, keluarga nun jauh disana kerap menelpon saya, saya senang karena merasa masih dirindukan :) , eh ternyata dugaan saya salah ” suntuk kali disini bang, mati lampu dari tadi siang, jadi daripada suntuk mending kami nelpon abang aja ” . saya sedih sekaligus terharu mendengar ucapan jujur ibu saya. :)

disana, pemadaman listrik sudah menjadi hal yang biasa. sehari bisa 2 sampai 3 kali. dampaknya, ibu-ibu kehilangan beberapa bagian cerita sinetron langganan mereka, anak-anak jadi tak merasa bersalah karena tidak bisa mengerjakan tugas sekolah, bapak-bapak kebingungan karena permainan remi, domino, dan catur di warung-warung kopi ataupun lapo harus dihentikan. walau tak jarang, masih ada yang memaksakan dengan memakai penerangan lilin.

kawan-kawan yang kuliah juga sering mengeluh karena tak bisa fokus akibat pemadaman. bagaimana bisa fokus, kalau malam menjelang ujian tak bisa membaca apa-apa, kilah mereka.

ketika pulang lebaran tahun lalu, seorang anak yang duduk disamping saya berujar dengan polosnya ” pah, katanya mau mendarat, koq dibawah gelap banget sih, kayak di hutan aja ” . bisa dimaklumi, si anak yang tinggal di jakarta terheran-heran melihat kawasan sekitar bandara yang malam itu terlihat gulita, karena pemadaman listrik bergilir disekitar bandara. dan  hanya pemadaman listrik yang membuat saya tidak betah berada dirumah.

gubernur se-sumatera pernah mengadu ke presiden tentang hal ini. tentu saja ini karena kegerahan luar biasa yang dirasakan masyarakat.

saya melihat ada dua sisi berbeda dibalik pemadaman ini. di banyak tempat disana, praktik pencurian listrik masih marak terjadi, bahkan dianggap menjadi sebuah hal yang biasa. acara-acara hajatan juga biasanya selalu memanfaatkan jasa ‘tukang listrik’ untuk menjamin ketersediaan penerangan dengan ‘jalan‘ apa saja. di sisi lain, pabrik listrik negara terus merugi, subsidi listrik membengkak, dan krisis energi sudah di depan mata.

akankah era ‘obor’ datang kembali. dimana setiap pelajar belajar dengan lentera, dan harus mencuci muka agar muka tidak loreng kayak rambo. usai maghrib bapak-bapak bertugas menyalakan petromak dan ibu-ibu berjuang didapur dengan penerangan seadanya. setidaknya, begitulah cerita nenek saya tentang kehidupan di jamannya dulu, jaman dimana mulan jameela belum ada, dan pencekalan hanya untuk kompeni belanda, bukan untuk ‘dewi’ seperti sekarang ini. loh koq..??? hehehehe..

hematlah energi, untuk keabadian planet ini…

-superunknown-