sepuluh tahun yang lalu, ketika demonstrasi besar-besaran meledak di indonesia, saya masih duduk di bangku kelas enam SD. kala itu, ketika demonstrasi yang dipicu krisis, keinginan untuk menjatuhkan rezim otoritarian yang telah berkuasa lebih dari tiga dekade, berubah menjadi aksi penjarahan, kerusuhan massive dan cenderung chaos. saya masih ingat, suatu sore ketika aksi penjarahan meluas di pusat kota, saya dan teman-teman asyik bermain bola plastik di lapangan kampung, seolah tak mengerti dan tak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
begitu malam tiba, banyak cerita yang semakin membuat anak-anak seperti saya kebingungan. selepas ‘aksi’ besar-besaran tersebut, orang-orang pulang membawa bungkusan sembako, peralatan elektronik, kompor gas bekas, bahkan lemari pendingin. apa sebenarnya yang terjadi..?? pertanyaan tersebut terus menghantui tidur panjang saya. di sekolah, saya menyaksikan pemandangan yang tak kalah menakutkan, ketika pelajaran tengah berlangsung, tiba-tiba seorang ibu menangis meronta sembari berlari membawa dua anaknya yang tengah belajar untuk segera meninggalkan sekolah lantas pulang kerumahnya, kerusuhan semakin meluas alasannya.
setelah kerusuhan mencapai puncaknya. bapak pembangunan mengundurkan diri. tayangan ini masih saya ingat sampai sekarang, walau kala itu saya tak bisa mengartikan apa sebenarnya yang sedang terjadi, dan untuk apa semua itu terjadi. saya hanya ingat, ketika saya mengganti pigura di depan kelas, menurunkan photo sang presiden karena presiden telah berganti tepat sehari sebelumnya.
elang mulya lesmana, heri hertanto, hafidhin royan, dan hendriawan sie adalah 4 nama yang terekam dalam ingatan saya kala itu. mereka, kala itu meninggal saat berjuang atas nama perubahan. pahlawan reformasi, begitulah gelarnya. kisah mereka, menginspirasi saya kala itu. tapi saya masih tetap saja bingung tentang apa sebenarnya perubahan itu. perubahan, benarkah berjalan sesuai esensinya..??
beberapa tahun kemudian, saya terpukau ketika seorang anak muda, aktivis kemahasiswaan ‘berhasil’ membuat anggota parlemen terdiam dalam sebuah dialog langsung di televisi membahas kebijakan tidak populis pemerintah dan ketidakberpihakan parlemen sebagai representasi langsung rakyat dan masyarakat indonesia. rico marbun, namanya. inspiratif, hingga namanya tertulis di dinding kamar saya, sejajar dengan nama alm. baharuddin lopa, sang idola yang pergi terlalu pagi.
sepuluh tahun kemudian, saya telah melewati bagian panjang dari sejarah negeri ini. namun, saya masih belum begitu faham dan mengerti tentang apa sebenarnya perubahan itu, waktu terus berlalu, hingga suatu sore beberapa hari yang lalu ketakutan kembali menghantui saya. akankah, kenangan sepuluh tahun sebelumnya kembali terulang..?? syukurlah, ketika melintas di depan gedung parlemen itu semuanya berjalan sewajarnya, tak ada masalah apa-apa meski satu jam sebelumnya bentrokan pecah persis di depan gedung itu.
sejujurnya, saya adalah pemimpi. pemimpi yang berharap perubahan datang, sebenar-benarnya perubahan. saya kerap larut dalam hegemoni sang pemimpi, dimana selalu tersembul harapan akan kesejahteraan dan kedamaian di atas tanah air ini. bagi saya, perubahan bukanlah mimpi, namun sebuah kenyataan yang akan datang di waktu yang tepat nanti.
saya masih terus berlari, berharap dan bermimpi tentang arti sebuah perubahan, perubahan yang lahir lewat semangat, lewat jalan santun nan bijak, yang lahir dan tumbuh dari kebesaran nurani……
-superunkown-

June 26, 2008 at 9:57 am
yap. saya juga masih kelas 5 SD.
tapi kalo dirasa-rasa, belom ada alasan yang tepat untuk mengulang sejarah 10 tahun yang lalu.
Mahasiswa sekarang (baca:Pendemo) lebih aneh
**saya juga mahasiswa
June 26, 2008 at 11:37 am
ah waktu itu saya baru masuk kuliah, sempet ikut2an demo walaupun di daerah.
Sayang perubahan yang diharap tak kunjung datang sesuai harapan…
bahkan para pahlawan Reformasipun sudah terlupakan…
June 26, 2008 at 3:57 pm
hmmm inget banged… aku dah kuliah tuh… klo ga salah semester 5-an… mmm… ikut demo tp cuma di jogja aja… yg paling inget ikut Pisowanan Ageng alias Rapat Besar di alun2 utara jogja sama Sultan.. seru euy!! trus… sempet juga dikejar2 PHH plus dilemparin gas aer mata… selamat gara2 ditarik masuk ke rumah salah satu penduduk kampung
huuhuhuuu… kalo inget ngeri juga euy!
June 26, 2008 at 4:27 pm
hanya amarah sesaat. tanpa visi. gila. yang kemaren sih cuman kegilaan. mahasiswa kok bakar mobil? mending copot deh kata ‘maha’ di depannya.
btw, ikut kuis sayah donk, bung iwan. hehe. kunjungi saja blog sayah. ^^
June 26, 2008 at 7:09 pm
yup… luarbiasa mas…
jika semua rakyat indonesia seperti anda yang memimpikan adanya perubahan dinegeri ini, tentu bangsa ini akan semakin maju…
Masih ada baharuddin lopa yang lain mas…
dan kita mulai dari diri sendiri bukan menunggu perubahan dari orang lain….
Salam perubahan!!
June 27, 2008 at 9:30 am
kita blon berubah, bung iwan.masih berputar-putar tak tentu arah.semoga di 2009 kita maju dan mempunyai visi yg jelas buat negara qt ini
June 27, 2008 at 1:21 pm
hohoho.. lama gak ksini.. sekarang malah seriusannnn ngomongnyaaahhh..
June 27, 2008 at 1:59 pm
humm….waktu ituh…Ndutz msh sering ngompol (lha??)
*lospokus
June 27, 2008 at 2:04 pm
*liat komen ratu tebu*
*bener juga*
selama kuliah ga ikut demo
sayanya bukan ga ikut solider..
tapi membayangkan jerih payah ortu yg membiayai kuliah saya supaya cpt kelar
*waktu kuliah itu, ambisi saya : melihat air mata bahagia dari ortu sewaktu melihat kita lulus*
June 27, 2008 at 4:01 pm
gak lama lagi kayaknya mau happen again..
June 27, 2008 at 4:37 pm
kayaknya orang medan bukan ya ?
maaf ni dah lama ngga mampir di sini
June 27, 2008 at 5:33 pm
widiw gue inget banget waktu tahun 98 gue masi SMA tapi ikut2an demo. pake baju SMA.
June 27, 2008 at 7:02 pm
Masih SMP waktu itu…
mengenang masa itu, saya merasa sadar bahwa juga bagian (walau kecil) dari sejarah bangsa ini. Kelak pasti itu bisa jadi pelajaran berharga bagi generasi masa yang akan datang.
yups… Harga sebuah perubahan itu memang ‘mahal’.
June 28, 2008 at 7:04 am
Seharusnya demo itu bisa dilakukan dengan cara2 yang lebih aman dan bersahabat. Wahai para generasi muda, masih ingat nggak sama nilai2 Pancasila?
Kalau menuntut perubahan, sebaiknya dilakukan dari diri sendiri dulu. Kalau udah bener, baru deh ngebenerin yang lain. Ok?
June 28, 2008 at 9:21 am
demo jgn pake kekerasan… dan setuju sm komen di atas, “harga sebuah perubahan memang mahal”…
June 28, 2008 at 4:23 pm
Semuanya memang harus berubah.
June 28, 2008 at 6:28 pm
sepuluh tahun lalu, juga banyak penghianat reformasi terlahir dari sana.
June 30, 2008 at 11:02 am
mamaku stuck di jalan dan menginap di sembarang hotel hari itu..
hmmmm pada akhirnya segalanya adalah pilihan
pilihan buat bagaimana membuat perubahan
memilih demikian ya silakan…
saya berhenti di tidak ikut ikutan
June 30, 2008 at 11:26 pm
kebetulan sy uda es em pe kala itu
*terlhat bener gap umurnyah*
eniwei…miris aja rasanya…
dgn segitu byk pengorbanan tp perubahan yg terjadi hampir nihil
July 1, 2008 at 10:28 am
hingga saat ini belum ada perubahan yg berarti
July 1, 2008 at 3:14 pm
bener kata hangga belom banyak perubahan yang berarti
July 1, 2008 at 3:17 pm
jadi inget jaman kuliah, suka demo juga.
pas pertama kali ikutan aksi pas BBM naik jamannya maegawati..
baru pertama.. Chaos…
lari-lari.. dari gedung sate ke unpad daripada dipukulin sama polisi yang tidak bertanggung jawab..
July 1, 2008 at 7:07 pm
hah? 10 tahun yang lalu dirimu masih eSDe? saya udah ikutan demo tuh hihihihi
July 1, 2008 at 10:46 pm
Demo De mo DE MO dEMo Mode Mode Mode mode
Salam dari pinggiran
July 2, 2008 at 1:23 pm
wah dulu kaya gitu ya bang? aku masih kecil jadi gatau apa apa soal kerusuhan 1998 itu hmm serem ya
July 2, 2008 at 3:20 pm
itu tahun berapa yach ???? wah … aku masih punya perangkonya kayaknya … perangko edisi reformasi …
July 10, 2008 at 8:57 am
Berubah .. *niru superhero* .. hehehe
July 10, 2008 at 8:57 am
mbak chic .. sama pas itu aku juga dah ikutan demo ..
.. tapi di SBY .. sekarang kamu kelas berapa ..?? kuliah yah ..??