Tentang Hidup

belajar mencintai pembantu…

hj

sudah hampir setahun saya menumpang dirumah itu. tak banyak waktu yang dihabiskan disana, cuma sekedar numpang tidur saja dan makan malam saja. dalam kurun waktu setahun pula, telah terjadi sedikitnya 6 x pertukaran ‘crew’ dirumah itu. tak tahu pasti apa sebabnya, namun ada benang merah yang menyebutkan kalau mereka tak pernah betah bekerja karena majikan yang kurang bersahabat. pernah, suatu saat, saya menjadi pelampiasan ‘curhat‘ sang ibu separuh baya, lewat airmatanya dia bercerita tentang ‘penderitaan’ dan perlakuan kurang simpatik yang didapatnya. saya hanya mencoba mendengar, iba, namun tak bisa berbuat apa-apa.

di pusat-pusat perbelanjaan supermewah, kita tentu sering melihat sosok yang berpakaian agak beda. biasanya menggendong, atau mendorong kereta bayi. dengan seragam identik itu, kita tentu gampang menebak siapa dia dan untuk apa dia disana. sang empunya bayi, tentu sedang ‘surfing’ di gerai-gerai ternama, tak ingin direpotkan oleh tabiat kebanyakan bayi. lantas, ketika kita tak ingin memakai seragam kerja ketika pergi pelesiran, tak bisakah kita melihat dan memberi mereka kesempatan untuk sedikit lebih ‘modis’ di weekend itu..?? haruskah mereka bekerja juga disana ??

sering kita dengar mereka menjadi objek kekerasan yang tak jarang berujung kematian. kita semua sama, hanya nasib yang menjadi pembeda. mereka punya keinginan yang sama untuk bisa hidup sejahtera. bukankah sekarang jaman telah berubah lebih maju dan kita sepakat kerja rodi dan romusha itu hanya bagian dari sejarah.

teman saya pernah berujar, ‘ kalau lo gak mampu menuhin standar UMR/UMK, jangan pernah ngarep punya pembantu, gimana rasanya kalo loe digaji dibawah standar UMR’..!!! terus, ketika mereka mendapat perlakuan tak simpatik di luar sana, kita justru merasa tersindir, karena disini saja kita tak mampu memberi cinta lebih kepada mereka. hmm, bener juga, bisik otak saya.

maka, ketika kita mendadak pitam karena roti bakar untuk sarapan kita hangus dan tak berasa, wajarlah ketika dikantor kita dimaki karena salah membuat laporan entry yang sifatnya sepele. adil bukan..??

hmm……….

-superunknown-

21 thoughts on “belajar mencintai pembantu…

  1. gk kok bang..temen aku mah ank karyawan semua..
    lagian, semua kan sama.. malah asikan temenan ma ank karyawan, daripada anaknya para staf–yang tengil2..
    heheheh..

    oh… syukurlah pok.. !!! kan dah dibilang tadi, popok ga mungkin kayak gitu..!!

  2. pembantu juga manusia, sesama manusia kita harus menghormati dan menghargainya, coba bayangkan kita tanpa mereka, pasti kita kelabakan..

    bener du, setuju..!!

  3. yang sabar yah bang, kalo emang gaji cm standar UMK/UMR

    *dijitak bang ona sutra

    iya kang, saya harus mulai belajar sabar, belajar ma kang catur yang penyabar🙂

  4. di rumah gw,asisten RT uda jadi anak sendiri..krn beliau benar2 sosok yg menyenangkan (baca : kepolosannya bikin kita geleng2 kepala)..

    tp utk ibu2 katanya lebih baik berdzikir ketika mengalami kelelahan sehabis berdinas ketimbang punya asisten RT..(klo ini mah tergantung kemampuan masing2 org hihihi);)

    syukurlah kalo punya hubungan emosional yang begitu dekat, eniwei, si kakak suka ma orang2 pulas yah ..?? hihihihihi

  5. Kadang2, susah juga punya pembantu yg sulit diatur & banyak tingkah.Ibuku aja sampe trauma en males punya pembantu lg😦

    kalo dah gitu, emank kesel yah bang, kita kan memang punya batas kesabaran juga..🙂

  6. Sayangnyah Ndutz gak pernah punya pembokat, jadi gak pernah ngerasain maki2 pembokat, jadi lagi kalo dimarahin di kantor gara2 laporan salah,,Ndutz man bisa nangis plus curhat😦

    nanti kalo dah berumah tangga, hmmm..🙂

  7. wah..ada bahas PRT juga disini..^^ bener, PRT itu pun manusia,punya perasaan.kalo q lebih milih mengajar baik-baik.mereka pun patut dihargai.dirumah q da berapa kali ganti PRT,ada yang suka ngambil brg tanpa bilang-bilang,suka sembunyiin makanan,males tapi gosip mulu,n baru terakhir ini dapet PRT yang baik.kita selaku pemilik rumah seakan dipermainin sama PRT yang nggak bertanggung jawab,minta keluar,eh nggak lama minta balik.kesel juga..nggak pernah diapa2in,eh kok gitu..

    terkadang memang ada yang ga bisa saling respek, kalo udah kayak gitu, wajar kalo kita kesel..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s