Uncategorized

It’s time for Africa, It’s time for the world to celebrate…

Mussolini : “Admiral, Italy must win the World Cup.”
Admiral : “Of course, Duce. That would be a wonderful achievement.”
Mussolini : “Admiral, I don’t think you understood me. Italy MUST win the World Cup.”

Itulah petikan dialog seorang Benito Mussolini, seorang diktator fasis Italia menanggapi target Gli Azzuri di Piala Dunia 1938. Mussolini tentu paham betul, memenangi Piala Dunia adalah kebanggaan, sama seperti ketika ia berhasil menaklukkan wilayah koloni dalam sebuah peperangan. Dan kemenangan menjadi wajib, menjadi sebuah keharusan. “Win or Die” merunut kepada jargon sang diktator. Timnas Italia mewakili kebanggaannya, dan kemenangan di Piala Dunia dianggap mampu menjaga reputasi dan hegemoni Mussolini sebagai diktator yang disegani dunia. Dan Timnas Italia pun pada akhirnya mampu menjadi Juara Dunia dan membawa pulang trophy Jules Rimet untuk Bennito Mussolini dan rakyat Italia. Sebuah epik yang berakhir indah.

Jauh di selatan Afrika, gelaran empat tahunan ini digelar. Afrika, dengan stigma benua ketiga mendapatkan kesempatan untuk pertama kalinya. Sebuah catatan sejarah baru, sekaligus ajang pembuktian untuk Afrika Selatan, negara yang akhirnya bersatu setelah mampu lepas dari belenggu dikotomi ras kulit hitam-kulit putih di era Politik Apartheid. Berakhirnya era Politik Apartheid di Afrika Selatan mewakili semangat Football for Unity dalam sepakbola. Semua bangsa di dunia bisa bersatu disini. Ini momentum yang sangat tepat bagi Afrika Selatan untuk mewakili Afrika sekaligus membuktikan bahwa Afrika mampu, Afrika bukan hanya menjadi simbol kemiskinan dan pemiskinan yang absolut. “Today, it is wonderful to be in Africa, and today, it is wonderful to be African”. Sebuah pernyataan yang merepresentasikan kebahagiaan Afrika.

TENTANG SEBUAH EPIK DAN KEBANGGAAN

Dunia mungkin tidak akan mengenal Kroasia, jika negara kecil pecahan Yugoslavia ini tidak ikut serta di Piala Dunia 1998 sekaligus mencatat pencapaian yang luar biasa dengan finish di posisi ketiga. Prestasi fenomenal untuk sebuah negara yang baru merdeka selama 7 tahun pada waktu itu. Senada dengan cerita heroik tersebut, Presiden Argentina, Irigoyen, harus rela dikudeta setelah Argentina gagal karena kalah melawan tuan rumah Uruguay di partai final Piala Dunia 1930. Dua cerita diatas cukup untuk menggambarkan, bahwa Piala Dunia bukan sekedar kejuaraan olahraga level dunia, tapi sebuah ajang pembuktian semangat kebangsaan sekaligus kebanggaan bagi tiap bangsa di dunia. Tak ada yang bisa menampik bahwa perhelatan empat tahunan ini menyedot atensi penduduk dunia dengan perpaduan artistik, kekuatan harmoni yang bersinergi dengan dan keindahan yang nyata-nyata mampu menghipnosis kita.

Coba tanyakan kepada para pemain timnas Slovenia. Bagaimana perasaan mereka saat Perdana Menteri mereka, Borut Pahur, membayar kaulnya dengan membersihkan sepatu skuad Slovenia, karena mereka akhirnya berhasil lolos ke Piala Dunia di Afrika Selatan. Borut Pahur mungkin menyadari, apa yang dilakukannya belum sebanding dengan apa yang dilakukan skuad timnas Slovenia, pengabdian mereka di lapangan hijau sulit untuk dikonversikan dengan apapun, lolos ke Piala Dunia adalah kado paling indah untuk seluruh rakyat, catatan sejarah penting bagi sebuah bangsa. Sebuah fakta yang menegaskan posisi sepakbola yang lebih dari sekedar olahraga, melainkan bagian penting dari peradaban suatu bangsa.

Mencoba memaknai Piala Dunia dari sisi yang berbeda, pada akhirnya membuka pemahaman kita tentang arti kata satu yang sebenar-benarnya, sekalius menemukan hakikat kedamaian yang paling luhur. Konflik semenanjung Korea dijamin tidak akan menular sampai ke Afrika Selatan. Meskipun Pyongyang dan Seoul kerap berseteru hingga detik ini. Konstelasi Politik antar bangsa seakan hilang ditelan atmosfir dan gempita pesta sepakbola ini. Sama halnya dengan perseteruan Inggris-Argentina atas kepemilikan kepulauan Falkland yang dikenal dengan Perang Malvinas, di Piala Dunia 1998 dua rival ini bertemu, namun berakhir dengan aroma sportifitas, tidak berakhir dengan cap sebuah laga yang kental dengan rivalitas politis. Sekali lagi, Sepakbola memperlihatkan keanggunannya.

Cerita tentang Tim Nasional Korea Utara pun tak kalah menarik. Korea Utara yang tertutup dan terisolir dari pergaulan dunia karena sistem pemerintahan totaliter, akhirnya mampu bersuara lewat sepakbola. Tim Nasional Korea Utara lolos ke Afrika Selatan lewat semangat, militansi, kolektivitas dan niat untuk mempersembahkan yang terbaik untuk negeri mereka dan pemimpin besar mereka, Kim Jong-Il. Kemenangan datang lewat kerjasama tim dan perjuangan heroik, itulah yang tertanam disetiap diri anggota tim. “Saya sangat bahagia bisa mewakili bangsa saya,“ tandas Jong Tae-Se, striker Korea Utara. Mereka berniat untuk mengejutkan dunia seperti yang mereka lakukan 44 tahun yang lalu di Inggris, mengalahkan Italia dan lolos ke perempatfinal, sebelum akhirnya takluk di tangan Portugal. Dari semua cerita tentang Pasukan Chollima diatas, kita semua bisa merasakan bahwa cerita kepahlawanan dan pengabdian utuh ada di sepakbola, ada di rentetan pertandingan Piala Dunia. Satu episode menarik dari sebuah drama bernama sepakbola.

Menilik dari sisi lain, Piala Dunia adalah stimulus paling mujarab bagi perekonomian Afrika Selatan. Piala Dunia diprediksi mampu menjadi salah satu faktor positif untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan pekerjaan baru, menggairahkan sektor riil, meningkatkan produk domestik bruto, sekaligus sarana promosi paling efektif untuk menampilkan citra positif Afrika Selatan secara khusus, dan Afrika pada umumnya. Afrika Selatan beruntung bisa terpilih menyelenggarakan ajang ini. Ajang yang tidak semua bangsa bisa mendapatkan kepercayaan dan kesempatan untuk menyelenggarakannya.

“It was not FIFA who decided to give the 2010 World Cup to South Africa. Nelson Mandela, the world’s great humanist and charismatic leader, was the person who got the World Cup for South Africa” -Sepp Blatter-

Pernyataan Presiden FIFA tersebut seakan menjadi awal untuk membuka pesta di musim panas ini. Sebuah pernyataan untuk menyambut kemenangan Afrika Selatan sebagai bangsa, dan kemenangan dunia yang menyambut hangat gelaran istimewa ini. Dan seluruh dunia pun ikut tersenyum….

Now it’s time for Africa, it’s time for the world to celebrate…!!

Africa

3 thoughts on “It’s time for Africa, It’s time for the world to celebrate…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s