Uncategorized

Jangan Datang Ke Danau Toba

Selalu ada cerita tentang cinta dan bagaimana cara manusia mengagungkan keindahan. Manusia, kerap bersinggungan dengan perasaan sentimentil apabila menyaksikan keindahan yang mengundang ketakjuban. Secara kodrati, manusia terlahir dengan naluri yang menyukai keindahan, baik keindahan dalam bentuk seni, alam, rupa maupun bentuk estetik lainnya. Harmoni dan rasa cinta dalam diri manusia merupakan sifat hakiki yang pasti dimiliki oleh tiap manusia yang lahir kedunia. Kesempurnaan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan terwakili lewat rasa dan perasaan yang lebih peka dibanding makhluk lainnya, terutama rasa kagum akan sebentuk keindahan.

Ada sebuah adagium yang menarik, “Berjalanlah, maka lihatlah dunia dengan mata dan mata hatimu”, falsafah yang mengajarkan manusia bahwa dunia ini sangatlah luas dengan pelbagai keindahan yang dapat disaksikan dengan dua mata, mata dan mata hati. Dua mata yang mampu melihat mahakarya Sang Pencipta, baik yang nyata-nyata terlihat maupun yang abstrak.

Kisah tentang Anne Horschman menyiratkan romantisme tentang cinta dan keindahan yang tumbuh selaras dalam jiwa. Anne, wanita yang lahir dan besar di Jerman, menemukan cinta sejatinya setelah menyaksikan keindahan Danau Toba. Dengan tulus, Anne mewakafkan dirinya untuk Danau Toba yang sangat dicintainya dengan cara yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang Indonesia sekalipun, Anne dengan inisiatif sendiri membersihkan sampah eceng gondok yang tumbuh liar di kawasan Danau Toba. Anne, yang kemudian berjodoh dengan lelaki batak asli Tapanuli dan kemudian dianugerahi marga Siallagan, mengagumi Danau Toba lebih dari sekedar sebuah kaldera besar yang dikelilingi bukit hijau, lebih jauh lagi Danau Toba merupakan tujuan hidupnya, ”Nunga hudapot di son ngolukku”, yang dalam Bahasa Indonesia berarti Dia telah menemukan tujuan hidupnya di Danau Toba.

Di tempat lain, Herman Delago, musisi asli Austria, melestarikan musik tradisional Batak dengan menyanyikan ulang lagu-lagu batak dan membuat konser di negeri asalnya. Kecintaan Delago pada kebudayaan Batak sama besarnya kepada Danau Toba. Delago, yang kini bermarga Manik, pernah membuat pertunjukan musik di Samosir dengan membawa rombongan orkestra dari Austria. Kecintaan Delago terhadap Danau Toba dan usahanya melestarikan kebudayaan Batak lewat musik datang dari hati dan tumbuh abadi. Delago benar-benar jatuh cinta kepada Danau Toba dan warisan kultural suku batak yang mendiami kawasan sekitar Danau Toba. Cinta yang sesungguhnya telah ia tahbiskan dalam bingkai pernikahan dengan mempersunting Gadis Batak.

Pesona Sebuah Mahakarya

Tidak berlebihan jika Danau Toba termasuk kedalam salah satu Mahakarya Sang Pencipta yang paling indah di dunia. Kaldera raksasa dengan sejumput ketenangan yang mengundang rasa kagum yang tidak ada habisnya. Sepintas kita mungkin tidak menyadari, kawah di dasar Danau Toba menyimpan potensi bencana mahadahsyat, dan mengintai kapan saja. Rasa takut yang dengan sendirinya terhapus ketika memandang ke tiap sudut Danau Toba yang elok dengan sejuta pesona.

Danau Toba sebuah danau besar yang mengelilingi tujuh Kabupaten di Sumatera Utara, luas tersebut membuat keindahan Danau Toba bisa dinikmati dari banyak titik. Waktu satu hari tidak akan cukup untuk berkeliling dan menjadi saksi keindahan kepingan surga bernama Danau Toba. Bukit hijau dan kawah air berpadu memanjakan mata, keteduhan yang tampak di ujung mata menjadi bukti anggunnya Danau Toba. Riak gelombang dan gemericik air menambah syahdu yang terngiang merdu saat memandang Danau Toba. Danau Toba bak lukisan yang tercipta saat Tuhan sedang tersenyum.

Paras elok Danau Toba juga bisa disaksikan dari sisi Air Terjun Sipiso-Piso, Tanah Karo. Berjarak kurang lebih 24 KM dari Kabanjahe, Air Terjun ini tampak bersanding cantik dengan Danau Toba. Perbukitan yang mengelilingi air terjun ini seakan menyuguhkan keindahan pembuka sebelum kita menyaksikan Desa Tongging di tepian Danau Toba dari atas kawasan Sipiso-Piso. Suara air yang memecah keheningan di dasar air terjun, menyimpan kedamaian yang menentramkan hati. Indah sekali dan ketakjuban itu tidak berhenti disini.

Menyusuri Danau Toba dari Pematang Siantar, rimbun dan sejuknya hutan pinus menyambut kita. Udara segar dan aroma khas hutan pinus mengantar rasa penasaran sebelum benar-benar tiba di Danau Toba. Perjalanan dengan melenusuri banyak tikungan tajam di sisi perbukitan merupakan sebuah eksotisme khas yang bisa dirasakan sebelum tiba di Parapat, kota yang persis berada di tepian Danau Toba. Sesekali kawanan kera muncul di pinggir jalan dan mengiba makanan, seakan mengucapkan Selamat Datang kepada kita. Semesta seolah mencoba menumbuhkan rasa cinta yang paripurna, perlahan dan meninggalkan kesan yang mendalam.

Kaldera raksasa ini mengelilingi sebuah pulau ditengahnya, Samosir namanya. Pulau yang menyimpan kekayaan budaya dan peninggalan kultural masyarakat batak. Jejak budaya yang tersimpan disini menegaskan bahwa Danau Toba bukan hanya destinasi yang menjual keindahan semata, tetapi juga warisan budaya dan peradaban batak yang menarik dengan nilai historis yang tinggi. Pertunjukan Patung Sigale-Gale dapat disaksikan di empat tempat di Pulau Samosir. Tarian Kematian dengan iringan gondang ini menjadi menu ‘wajib’ bagi pelancong yang mengunjungi Samosir. Varian cinderamata untuk dibawa pulang juga bisa didapatkan disini. Untuk pelancong yang ingin menginap di Samosir, Desa Tuk-Tuk menyediakan banyak penginapan dengan harga yang beragam, mulai dari 100 ribuan rupiah per malam. Sungguh sebuah pilihan yang menyenangkan, bukan?

Cantiknya panorama Danau Toba juga bisa dinikmati dari Tele, desa kecil di Pulau Samosir. Tele laksana lukisan yang dibingkai pigura alam nan elok. Jalanan berkelok yang terbentang menuju Tele ibarat goresan kuas diatas kanvas, sungguh permai. Spot paling menarik untuk dikunjungi di Tele adalah Menara Pandang Tele. Dari sini, kita bisa melihat Danau Toba sebagai sebuah hamparan air dengan gelombang tenang yang menerbangkan khayalan kita, membawa kita pergi menuju ketakjuban yang abadi. Pusuk Buhit yang melegenda itupun bisa terlihat jelas dari Menara Pandang Tele, barisan perbukitan hijau yang berasal dari letusan Supervolcano ini menurut hikayat merupakan tempat asal mula orang batak. Nirwana kecil nan sempurna.

Berjuta kata terasa tak akan bisa menerjemahkan keindahan Danau Toba, masih sangat banyak tempat lain yang dapat dikunjungi untuk ‘menjamah’ Danau Toba. Sebuah mahakarya dengan pesona yang selalu bisa meluluhkan hati kita untuk kemudian terperosok kedalam kecintaan yang mendalam. Danau Toba sebagai sebuah peradaban yang menggugah rasa, haruslah mendapat satu tempat di ruang hati kita. Danau Toba adalah anugerah Tuhan untuk Indonesia.

Maka, Jangan datang ke Danau Toba jika tidak ingin jatuh cinta dan menemukan cinta sejati layaknya kisah Anne Horschman dan Herman Delago. Dengan aura keanggunan, Danau Toba memikat siapapun yang memandangnya. Sekali lagi, jangan datang ke Danau Toba jika tak ingin takluk dan terbuai dalam pelukan keindahan Danau Toba. Wonderful Love, Wonderful Toba. Temukanlah, cintailah.

*artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Artikel Danau Toba yang diselenggarakan oleh ayojalanjalan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s